KUTAI KARTANEGARA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Pangempang, Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Selasa (22/9/2026) siang, berujung tragis.
Seorang warga berinisial RL (60) meninggal dunia setelah terjebak dalam kobaran api ketika berupaya membantu warga memadamkan kebakaran yang mulai mendekati kawasan permukiman.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 WITA. Api yang awalnya membakar lahan kemudian merambat dengan cepat akibat kondisi di lapangan dan hembusan angin.
Safa, yang merupakan ipar korban sekaligus saksi di lokasi, mengatakan RL sempat mengajak anggota keluarganya untuk membantu warga mengendalikan api.
Korban kemudian mengambil air dan berusaha membantu proses pemadaman. Namun, situasi berubah ketika api bergerak semakin cepat dan menjalar ke kawasan bangunan sarang burung walet.
Dalam kondisi tersebut, RL diduga tidak sempat menyelamatkan diri. Warga kemudian menemukan korban dalam keadaan meninggal dunia di sekitar bangunan walet yang telah terbakar.
Bangunan Sarang Walet Ikut Dilalap Api
Selain menimbulkan korban jiwa, kebakaran juga menghanguskan bangunan sarang burung walet milik warga.
Bangunan yang sebagian menggunakan material kayu dan seng tersebut terbakar hingga nyaris tidak tersisa. Kobaran api yang membesar dengan cepat membuat proses penyelamatan bangunan sulit dilakukan.
Rekaman video warga di lokasi memperlihatkan api membumbung tinggi dan melalap bangunan walet. Sejumlah warga terdengar menyebut bangunan usaha tersebut telah habis terbakar.
Kerugian akibat kejadian tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Namun, nilai kerugian masih menunggu pendataan lebih lanjut dari pihak terkait.
Warga Evakuasi Korban
Setelah korban ditemukan, warga langsung melakukan evakuasi dari lokasi kebakaran. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, korban kemudian dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat sebelum diserahkan kepada pihak keluarga.
Sementara itu, upaya pemadaman terus dilakukan oleh petugas gabungan bersama masyarakat dan relawan.
Petugas dari unsur pemadam kebakaran, BPBD, TNI/Polri dan relawan dikerahkan untuk mengendalikan api serta mencegah kobaran meluas ke permukiman warga.
Salah satu fokus penanganan dilakukan dengan membuat sekat bakar (firebreak) di sejumlah titik yang dinilai berpotensi menjadi jalur perambatan api.
Kondisi lokasi yang berdekatan dengan rumah penduduk membuat proses pemadaman dilakukan secara hati-hati untuk mencegah munculnya korban maupun kerugian tambahan.
Hingga penanganan berlangsung, penyebab pasti munculnya titik api masih dalam penyelidikan aparat kepolisian. Petugas juga melakukan penelusuran terhadap lokasi awal kebakaran untuk mengetahui sumber dan kronologi munculnya api.
Peristiwa ini menjadi perhatian warga Muara Badak, mengingat kobaran api tidak hanya menyebabkan kerugian material, tetapi juga merenggut satu nyawa.
(Pril)





























