SANGASANGA – Hampir sepekan setelah ledakan sumur migas LSE-P715 mengguncang Kelurahan Jawa, Kecamatan Sangasanga, Kutai Kartanegara, pihak PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field akhirnya memberikan penjelasan resmi.
Dalam pernyataan yang dilangsir dari Kaltim Post edisi 23 Juni 2025, Dony Indrawan, Manager Communication Relations & CID PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), menyebut bahwa semburan lumpur bercampur gas berhasil dihentikan oleh tim teknis pada Sabtu sore, 21 Juni 2025. Kejadian tersebut pertama kali terjadi pada Kamis pagi, 19 Juni 2025.
“Tim teknis yang diterjunkan akhirnya berhasil menghentikan kejadian tersebut,” ungkap Dony.
Banyak Pertanyaan Warga Masih Menggantung
Meski pihak perusahaan mengklaim telah membuka posko kesehatan, menyalurkan ratusan dus dan galon air mineral, serta memberikan perlengkapan kesehatan bagi warga dalam radius 1 kilometer dari lokasi sumur, sejumlah pertanyaan publik belum terjawab dengan jelas.
Warga dan media mempertanyakan:
- Apakah semburan sumur menjadi penyebab pencemaran air PDAM?
- Apa bentuk kompensasi bagi warga yang mengalami kerugian ekonomi?
- Bagaimana distribusi air galon dan cakupannya?
- Adakah sanksi internal bagi pihak operasional jika ditemukan kelalaian?
Anggota DPRD Kutai Kartanegara, Rahmat Dermawan, juga menyoroti minimnya tanggung jawab dalam penanganan dampak sosial.
“Harusnya ada pertanggungjawaban, termasuk kompensasi,” tegasnya.
Krisis Air Belum Usai, Warga Terpaksa Bertahan
Hingga saat ini, distribusi air dari PDAM Tirta Mahakam Kukar masih dibatasi hanya untuk kebutuhan MCK. Air untuk konsumsi tidak disarankan, khususnya selama kegiatan MTQ tingkat kecamatan yang berlangsung pada 22–27 Juni 2025.
Pertamina memang menjanjikan penyediaan air galon, tetapi mekanisme distribusi dan jangkauan wilayah belum dijelaskan secara rinci.
Hasil Uji Laboratorium Masih Dinanti
Dony menegaskan bahwa perusahaan akan melakukan evaluasi menyeluruh atas insiden ini sebagai langkah mitigasi risiko di masa mendatang. Namun, hingga saat ini, hasil uji laboratorium air baru diharapkan tersedia pada awal Juli 2025.
Sejumlah pertanyaan yang diajukan media juga tidak dijawab secara substantif, termasuk mengenai:
- Pencemaran sungai dan rencana normalisasi
- Estimasi waktu pemulihan lingkungan
- Laporan internal ke pusat
Ketidakpastian Masih Membayangi
Parit-parit sekitar lokasi sumur masih terlihat berlumpur. Warga, khususnya yang tinggal di kawasan terdampak langsung (Ring 1), masih merasa khawatir terhadap paparan gas dan potensi pencemaran jangka panjang.
“Perusahaan akan melakukan evaluasi atas kejadian ini untuk dijadikan pembelajaran dan mitigasi risiko di masa mendatang,” tutup Dony, dikutip dari Kaltim Post.
Baca juga: Ledakan Sumur Minyak di Sangasanga Gegerkan Warga, Air PDAM Tercemar dan Bau Gas Menyengat
Berita ini dilangsir dari laporan Kaltim Post (23 Juni 2025). Penulisan ulang oleh tim redaksi Media Badak




























