Muara Badak (13/4/2026) — Isu terkait dugaan aliran dana dari potongan 10 persen tali asih yang bersumber dari PHSS kembali mencuat. Namun, Ikatan Mahasiswa Muara Badak (IMABA) dengan tegas membantah keterlibatan mereka dalam penerimaan dana tersebut.
Ketua IMABA, Andi Riski, menyampaikan klarifikasinya menyusul pernyataan dari Ketua Pembudidaya Kerang Darah. Ia menegaskan bahwa dirinya maupun organisasi yang dipimpinnya tidak pernah menerima dana sepeser pun dari potongan tali asih tersebut.
Andi Riski yang sebelumnya turut aktif dalam aksi demonstrasi memperjuangkan nasib nelayan kerang darah yang gagal panen bahkan sempat diamankan dan bermalam di Polres Bontang, menekankan bahwa keikutsertaannya murni dilandasi solidaritas.
“Kami turun bersama mahasiswa dan pemuda lainnya semata-mata karena kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak aktivitas pengeboran migas. Tidak ada kepentingan lain, apalagi menerima imbalan,” tegasnya.
Ia juga meminta kepada pengurus kelompok kerang darah agar tidak membawa-bawa nama pihak yang telah membantu perjuangan mereka dalam konteks pembagian dana.
“Jangan menyebut-nyebut pihak yang membantu seolah-olah akan diberikan bagian dari dana tersebut. Saya sendiri ditanya oleh teman-teman, padahal faktanya kami tidak pernah menerima apa pun,” ujarnya.
Andi Riski turut mengingatkan agar informasi yang beredar tidak berkembang menjadi asumsi yang merugikan pihak lain, khususnya IMABA.
“Kami berharap persoalan ini tidak berkembang menjadi fitnah, baik kepada lembaga kami maupun kepada diri saya secara pribadi. Apa yang kami lakukan murni bentuk solidaritas,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia berharap persoalan terkait pembagian dana tali asih dapat diselesaikan secara internal oleh anggota kelompok kerang darah tanpa menimbulkan polemik yang meluas.
“Silakan diselesaikan dengan baik di internal. Kami dari mahasiswa murni membantu tanpa imbalan, karena itu sudah menjadi bagian dari tugas moral kami untuk mendampingi masyarakat,” tutupnya.





























