Muara Badak (8/4/2026) – Polemik mencuat di kalangan anggota kelompok kerang darah terkait dugaan pemotongan dana tali asih dari PHSS sebesar 10 persen oleh oknum pengurus inti. Pemotongan tersebut diperkirakan mencapai nilai fantastis, yakni sekitar 1 miliar.
Seorang anggota yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya terhadap tidak adanya transparansi dalam pengelolaan dana tersebut. Ia mempertanyakan kejelasan alur penggunaan dana hasil pemotongan yang dinilai tidak pernah disampaikan secara terbuka kepada anggota.
“Kami tidak pernah mendapatkan penjelasan resmi terkait ke mana aliran dana 10 persen itu. Nilainya besar, tapi tidak ada laporan yang jelas,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan anggota yang merasa hak mereka telah dipotong tanpa mekanisme yang transparan dan akuntabel. Ia menegaskan bahwa keterbukaan informasi merupakan hal penting dalam menjaga kepercayaan antar anggota dan pengurus.
Sejumlah anggota lainnya juga mulai menyuarakan hal serupa, mendesak agar pengurus inti segera memberikan klarifikasi terbuka terkait pengelolaan dana tersebut. Mereka berharap adanya audit atau penelusuran lebih lanjut guna memastikan tidak terjadi penyalahgunaan.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengurus inti maupun perwakilan terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai dugaan pemotongan dan penggunaan dana 10 persen tersebut.
Anggota kelompok kini menunggu langkah konkret dari pihak terkait untuk membuka secara transparan aliran dana tersebut, demi menjaga keadilan dan kepercayaan bersama.































