TENGGARONG – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia (RI) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, kali ini menghadirkan sebuah ide lomba yang unik sekaligus mengundang tawa. Jika di banyak daerah lomba kemerdekaan identik dengan balap karung, tarik tambang, atau makan kerupuk, warga Desa Muara Kaman Ulu justru menggelar lomba melamun.
Ya, Anda tidak salah baca. Lomba ini menantang peserta dari kalangan pemuda hingga lanjut usia (lansia) untuk duduk diam dengan tatapan kosong selama waktu yang telah ditentukan. Peserta tidak diperbolehkan bereaksi meski mendapat gangguan dari penonton.
Berawal dari Ide Spontan
Wakil Ketua Panitia HUT RI Desa Muara Kaman Ulu, Deni Saputra, menjelaskan bahwa lomba ini muncul secara spontan. Panitia awalnya hanya merencanakan lomba-lomba tradisional, namun ide melamun hadir sebagai tambahan yang langsung disambut antusias warga.
“Peserta harus duduk dengan ekspresi datar dan tidak merespons interaksi dari penonton. Biarpun ada yang mencoba membuat mereka tertawa atau bereaksi, ekspresi tetap harus sama. Itulah tantangannya,” ujar Deni saat dihubungi, Minggu (10/8/2025).
Awalnya, lomba ini direncanakan berlangsung selama tiga jam. Namun, berdasarkan kesepakatan panitia dan peserta, durasi dipangkas menjadi satu jam.
Syarat dan Mekanisme Lomba
Lomba yang digelar di Gelora Muso bin Salim, Lapangan Sepak Bola Desa Muara Kaman Ulu, ini diikuti peserta berusia minimal 15 tahun dan merupakan warga setempat.
Jumlah pendaftar sempat mencapai 50 orang, tetapi panitia membatasi hanya 36 peserta karena keterbatasan tempat. Bahkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang sedang berada di desa itu pun ikut memeriahkan.
Gangguan kepada peserta hanya boleh dilakukan melalui tatapan dan gerakan lucu, tanpa menyentuh. Tiga juri menilai melalui rekaman video untuk menentukan juara satu, dua, dan tiga, dengan total hadiah jutaan rupiah.
Puncak Perayaan HUT RI
Deni menyebut lomba melamun ini menjadi kategori terakhir dalam rangkaian lomba sebelum puncak perayaan HUT RI di desa tersebut.
“Setelah lomba melamun, masih ada jalan santai, zumba, dan penyerahan hadiah pada sore harinya,” ungkapnya.
Lomba melamun ini pun sukses menciptakan gelak tawa dan menjadi bahan cerita di tengah masyarakat. Tidak sedikit yang berharap lomba ini bisa kembali digelar di tahun-tahun berikutnya.































