Muara Badak, 28 April 2025 — Hasil uji laboratorium sampel limbah PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) yang dilakukan oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Mulawarman (Unmul) telah selesai. Dalam laporan tersebut, terdapat lima poin kesimpulan utama yang diungkapkan oleh tim investigasi.
Peningkatan Bahan Organik dan Dampaknya
Hasil analisis indeks saprobik menunjukkan adanya peningkatan bahan organik di perairan sekitar lokasi budidaya kerang. Kondisi ini menyebabkan terjadinya kematian massal kerang dan menunjukkan tingkat pencemaran dari ringan hingga cukup berat.
Kerusakan Jaringan Kerang Terbukti
Pengamatan histopatologis terhadap sampel kerang darah dari seluruh lokasi, termasuk area kontrol di Tani Baru, menunjukkan adanya kerusakan jaringan. Kerusakan paling parah ditemukan di lokasi yang berdekatan dengan titik K2 (K7 & K8).
Perairan Semi Tertutup Berisiko
Lokasi budidaya kerang berada di perairan semi tertutup, yang memiliki sirkulasi air terbatas. Kondisi ini berpotensi menyebabkan akumulasi limbah dan bahan pencemar, meningkatkan risiko efek domino terhadap ekosistem sekitar.
Pelacakan Polutan Masih Terbatas
Penggunaan isotop stabil δ13C pada sampel sedimen menunjukkan karakteristik karbon yang masih berada pada baseline, sehingga sulit memastikan adanya pengaruh langsung dari kolam pengendapan limbah (K1).
Konektivitas Antara Wellpad dan Perairan Sekitar
Diduga ada koneksi antara lokasi sumur produksi (K2) dengan perairan di sekitar, termasuk area K3. Konsentrasi COD yang tinggi di area wellpad menandakan adanya bahan kimia yang berpotensi menurunkan kualitas air di lokasi budidaya.
Diketahui, pengambilan sampel dilakukan pada 23-25 Januari 2025. Sampel air plankton diambil dari sekitar lokasi pengambilan sampel material/sedimen sebanyak 15 titik.
Akademisi Fakultas Kehutanan Unmul, Esti Handayani, menyebut bahwa dari hasil uji lab itu memang terjadi pencemaran.
“Ada pencemaran bahan organik tinggi,” katanya.
Dilangsir dari Bontangpost.id PT Pertamina Hulu Sanga Sanga melalui Manager Communication Relations & CID PT Pertamina Hulu Indonesia, Dony Indrawan, menyatakan bahwa perusahaan menghargai dan mendukung langkah Pemkab Kutai Kartanegara dalam menanggapi laporan masyarakat terkait gagal panen kerang darah.
Namun, ia menegaskan bahwa hasil investigasi Unmul tidak bersifat konklusif dan tidak dapat langsung dikaitkan dengan kegiatan pengeboran sumur PHSS. “Kami akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan pihak berwenang untuk memastikan proses yang objektif,” ujarnya.
Perusahaan berharap semua pihak dapat menghormati proses yang sedang berlangsung dan menjaga suasana kondusif demi penyelesaian terbaik.





























