Muara Badak – Kebijakan pemotongan 10 persen dana tali asih memicu tanda tanya di kalangan nelayan kerang darah Muara Badak. Sorotan kian menguat setelah Aliansi Nelayan Muara Badak memilih tidak membuka rincian penerima dana apresiasi tersebut.
Dana tali asih yang bersumber dari PT Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS) itu sebelumnya diberikan sebagai bentuk kompensasi atas dampak yang dirasakan nelayan akibat dugaan pencemaran limbah.
Namun, dari total Rp9,94 miliar yang dicairkan, pemotongan 10 persen justru memunculkan polemik baru, terutama terkait transparansi pengelolaannya.
Aliansi Nelayan Muara Badak menyebut bahwa dana tersebut dikumpulkan untuk diberikan kepada pihak-pihak yang sudah membantu sehingga tali asih dari PT Pertamina Hulu Sanga-Sanga diberikan.
Salah satu pihak yang disebut bakal menerima adalah lembaga bantuan hukum dan pengacara yang mendampingi mereka.
Ketua Aliansi Nelayan Kerang Darah, Muhammad Said, mengklaim pemotongan dana tali asih itu sudah disepakati nelayan terdampak. Bahkan kesepakatan tersebut kembali disampaikan kepada anggota menjelang pencairan dana tali asih.
“Bahkan semua anggota telah mengetahui sejak awal perjuangan tahun 2024. Perjuangan ini membutuhkan biaya,” pungkasnya.
Ia menyebut, kesepakatan itu telah disampaikan tiga hari sebelum pencairan dana pada 17 Maret 2026 di Balikpapan.
Menurutnya, kesepakatan tersebut juga telah dituangkan dalam notulensi rapat serta dilengkapi dengan surat kuasa.
Keluhan Nelayan Soal Transparansi
Sebelumnya diberitakan, polemik mencuat di kalangan pembudidaya kerang darah Muara Badak terkait dugaan pemotongan dana tali asih sebesar 10 persen dari total Rp9,94 miliar yang diberikan Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS).
Seorang anggota yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa atas minimnya transparansi dalam pengelolaan dana tersebut. Ia mempertanyakan kejelasan penggunaan potongan yang dinilai tidak pernah disampaikan secara terbuka kepada anggota.
“Kami tidak pernah mendapatkan penjelasan resmi terkait ke mana aliran dana 10 persen itu. Nilainya besar, tapi tidak ada laporan yang jelas,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan anggota yang merasa hak mereka berkurang tanpa mekanisme yang transparan dan akuntabel.
Latar Belakang Tali Asih
Tali asih itu sendiri merupakan buntut dari tuntutan nelayan terkait dugaan pencemaran limbah oleh PT Pertamina Hulu Sanga-Sanga.
Pencemaran itu ditengarai penyebab nelayan kerang darah gagal panen di wilayah Muara Badak.





























