BONTANG – Dengan mata yang sembab, Legiem berdiri di depan Mapolres Bontang, Kamis (13/2/2025). Kegelisahan menyelimutinya sejak malam sebelumnya, memikirkan kondisi suaminya, Abu, yang kini berada dalam tahanan setelah aksi demonstrasi di Muara Badak.
Abu adalah satu dari 10 pendemo yang diamankan oleh aparat Polres Bontang pada Rabu (12/2/2025). Bersama kelompoknya, ia menuntut tanggung jawab PT Pertamina Hulu Sanga-Sanga (PHSS) atas pencemaran lingkungan yang menyebabkan gagal panen bagi ratusan nelayan pembudidaya kerang dara.
Harapan Keluarga untuk Kebebasan
“Saya khawatir, apalagi suami punya asam urat. Takut kesehatannya memburuk,” kata Legiem dengan suara bergetar. Tak sendiri, ia datang bersama anaknya dan beberapa nelayan pembudidaya kerang dara lainnya, berharap bisa segera melihat suami mereka bebas.
Tak lama, ia akhirnya dapat bertatap muka dengan Abu yang berada di lantai dua Mapolres Bontang. “Jangan lupa salat,” bisiknya kepada sang suami, mencoba memberikan ketegaran di tengah situasi sulit.
Aksi Berlanjut, Nelayan Menuntut Keadilan
Aksi protes yang dilakukan Aliansi Peduli Nelayan Kerang Dara bukanlah yang pertama. Sudah sepekan mereka turun ke jalan, menuntut penyelesaian atas dugaan pencemaran lingkungan akibat aktivitas pengeboran RIG GWDC di wilayah kerja PT Pertamina Sanga-Sanga.
Mitra Setiawan, Humas aliansi, menjelaskan bahwa pencemaran ini mengakibatkan 299 nelayan mengalami gagal panen. “Sebelumnya, mereka bisa menghasilkan hingga 10 ton kerang dara per hari. Kini, hasil panen anjlok,” ungkapnya.
Aliansi telah berupaya mencari solusi selama dua bulan terakhir, namun belum ada kejelasan dari pihak perusahaan.
Sikap PT Pertamina Hulu Sanga-Sanga
Menanggapi protes ini, PHSS mengaku turut prihatin dengan kondisi nelayan di Muara Badak, terutama saat musim hujan seperti sekarang. Perusahaan menyatakan menghormati hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat dan berjanji akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menangani persoalan ini.
Sementara itu, keluarga pendemo PT Pertamina Sanga-Sanga terus menantikan kejelasan nasib orang-orang terdekat mereka. Mereka berharap keadilan ditegakkan, dan solusi nyata segera dihadirkan untuk kesejahteraan para nelayan terdampak.
Sumber : bontangpost.id


































