Muara Badak (18/3/2026) – Pemuda Karang Taruna Tanjung Limau bersama AMARAH masih bertahan menjaga portal di ruas jalan rusak parah di wilayah Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak.
Penjagaan itu dilakukan sebagai bentuk menjalankan hasil berita acara kesepakatan yang dibuat dalam pertemuan di Kantor Kecamatan Muara Badak pada 16 Maret 2026.
Sebelumnya, setelah portal dipasang, sejumlah unsur pemerintah dan aparat turut hadir di lokasi. Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta staf Kecamatan Muara Badak bahkan sempat turun langsung bersama para pemuda untuk melihat kondisi jalan yang mengalami kerusakan cukup parah.
Pemortalan tersebut bukan tanpa alasan. Jalan yang setiap hari dilintasi kendaraan berat itu sudah lama dikeluhkan warga. Lubang besar, badan jalan yang amblas, hingga kondisi yang membahayakan pengendara menjadi pemandangan sehari-hari. Karena itu, pemuda setempat mengambil langkah tegas dengan membatasi kendaraan berat yang melintas.
Sebagai bentuk pemberitahuan, himbauan pengalihan jalur bahkan telah dipasang di Simpang Badak Bontang sejak lima hari lalu. Namun, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak kendaraan berat yang seolah mengabaikan peringatan tersebut.
Beberapa truk CPO dari Kubar dan Jonggon, truk ekspedisi, hingga kendaraan pengangkut sawit masih terlihat nekat melintas. Bahkan ada pula truk pengangkut sawit yang tetap memaksa lewat dengan muatan penuh di bak kendaraan.
Sikap ini memicu kekecewaan pemuda. Mereka menilai sebagian pengemudi dan pihak perusahaan seakan tidak menghargai upaya masyarakat yang sedang berjuang menjaga keselamatan jalan dan lingkungan.
“Ini bukan aksi sembarangan. Portal ini dipasang berdasarkan hasil rapat resmi di kantor camat. Kalau masih dilanggar, berarti ada yang tidak menghargai kesepakatan bersama,” ujar Erdin, Koordinator AMARAH yang berjaga di lokasi.
Pemuda menegaskan, portal akan tetap dijaga sampai ada langkah nyata untuk memperbaiki jalan yang rusak.
Mereka juga mengingatkan bahwa kerusakan jalan tidak bisa terus dianggap masalah kecil, karena setiap hari warga harus mempertaruhkan keselamatan saat melintas.
Kondisi ini sekaligus menjadi tamparan bagi pihak-pihak yang selama ini memanfaatkan jalan tersebut, baik perusahaan maupun pemerintah. Di tengah aktivitas ekonomi yang terus berjalan, masyarakat justru harus berjuang sendiri menjaga jalan yang menjadi urat nadi kehidupan mereka.
Selama perbaikan belum dilakukan secara serius, pemuda Tanjung dan AMARAH menegaskan mereka tidak akan mundur menjaga portal. Bagi mereka, ini bukan sekadar menutup jalan untuk mobil besar, tetapi bentuk perlawanan terhadap pembiaran kerusakan yang sudah terlalu lama terjadi.
Adapun kendaraan kecil dan roda dua masih tetap bisa melintas di jalan rusak tersebut.































