Muara Badak (15/3/2026) – Buruknya kondisi jalan poros Muara Badak menuju Samarinda kembali menuai kritik keras. Seorang mahasiswa Universitas Mulawarman (UNMUL) yang pulang kampung ke Muara Badak di bulan suci Ramadhan mengalami kecelakaan setelah motornya menghantam jalan berlubang di daerah Batu-Batu dekat Kantor Kecamatan Muara Badak.
Kesal dengan kondisi yang dinilai sudah terlalu lama dibiarkan, mahasiswa tersebut kemudian menandai beberapa lubang jalan menggunakan pilox agar pengendara lain tidak mengalami nasib yang sama.
Mahasiswa Fakultas Hukum UNMUL, Arya Guna, menyampaikan kritik pedas terhadap pemerintah daerah maupun provinsi yang dinilai lamban menangani kerusakan jalan tersebut.
“Turut berduka cita atas meninggalnya empati pemerintah provinsi maupun kabupaten. Jalan poros Muara Badak–Samarinda ini sangat memprihatinkan. Saya sampai berpikir, ini jalan atau jerawat, besar sekali pori-porinya,” ujarnya dengan nada satir.
Menurut Arya, di tengah momentum Ramadhan yang membuat banyak warga dan mahasiswa perantauan pulang ke kampung halaman, kondisi jalan justru semakin membahayakan. Ia menilai pemerintah seharusnya menjadikan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama, bukan sekadar janji pembangunan.
Dengan uang seadanya, ia membeli pilox seharga Rp30 ribu untuk menandai lubang-lubang jalan. Tindakan tersebut ia lakukan sebagai bentuk protes sekaligus peringatan bagi pengguna jalan lainnya.
“Maaf, uang saya tinggal Rp30 ribu. Hanya cukup beli pilox untuk menandai jalan yang berlubang. Semoga pemerintah terkait tidak lagi pura-pura buta melihat kondisi ini,” katanya.
Aksi sederhana itu langsung menarik perhatian warga yang melintas. Banyak pengendara mengaku kondisi jalan poros tersebut memang sudah lama rusak namun belum mendapat penanganan serius.
Kritik pun mengarah pada pemerintah daerah dan provinsi yang dinilai belum menunjukkan langkah konkret memperbaiki jalur vital penghubung Muara Badak dengan Samarinda. Padahal jalan tersebut setiap hari dilalui masyarakat, pekerja, hingga kendaraan logistik.
Warga berharap pemerintah tidak menunggu sampai ada korban jiwa baru kemudian bergerak. Infrastruktur dasar seperti jalan, menurut mereka, adalah tanggung jawab utama Negara dalam menjamin keselamatan masyarakat.
Kini, tulisan pilox seharga Rp30 ribu di tengah jalan rusak itu seakan menjadi simbol ironi ketika rakyat kecil harus turun tangan sendiri menandai bahaya yang seharusnya sudah lama ditangani oleh pemerintah.






























