Gelombang Klarifikasi Meluas, KNPI dan PPMB Tegaskan Tak Terima Dana Potongan 10% Tali Asih PHSS
MUARA BADAK (17/4/2026) – Polemik dugaan pemotongan dana 10 persen dari tali asih yang dikaitkan dengan sejumlah organisasi terus bergulir. Setelah sebelumnya IMABA menyampaikan bantahan, kini giliran KNPI Muara Badak dan PPMB angkat bicara, menegaskan bahwa mereka tidak pernah menerima dana tersebut dari para pembudidaya kerang darah.
Klarifikasi ini mencuat menyusul pernyataan dari Ketua Pembudidaya Kerang Darah yang menyampaikan klarifikasi resmi kepada publik. Menanggapi hal itu, Ketua PPMB, Helmi, dengan tegas membantah adanya aliran dana ke organisasinya.
Helmi menjelaskan, keterlibatan PPMB dalam persoalan petambak kerang darah semata-mata didorong oleh kepedulian terhadap masyarakat Muara Badak. Ia menegaskan bahwa pihaknya memiliki rekam jejak dalam membantu warga yang menghadapi kesulitan.
“Tidak ada kami menerima dana potongan tali asih PHSS. Kami hadir karena merasa ini memang harus dibantu. Selama ini PPMB selalu berdiri bersama masyarakat Muara Badak yang tertindas,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa PPMB turut terlibat dalam aksi besar yang digelar sebagai bentuk solidaritas. Aksi tersebut bahkan berujung pada diamankannya sejumlah peserta oleh aparat kepolisian di Polres Bontang, termasuk satu anggota KNPI dan Ketua IMABA yang sempat ditahan semalam.
Senada dengan itu, KNPI Muara Badak juga menyampaikan bantahan tegas. Mereka menegaskan bahwa keikutsertaan dalam aksi murni dilandasi solidaritas terhadap para petambak kerang darah yang mengalami kesulitan.
“Kami tidak ada menerima dana. Kami murni membantu karena diajak dalam aksi solidaritas,” ungkap perwakilan KNPI Muara Badak.
Dalam peristiwa pengamanan peserta aksi, KNPI juga mengakui bahwa satu anggotanya turut diamankan. Namun, mereka bergerak cepat untuk memastikan seluruh peserta aksi dapat dibebaskan.
Koordinator lapangan aksi (2/25) dari KNPI Muara Badak, Abdillah, menjelaskan upaya intensif yang dilakukan untuk membebaskan para peserta aksi. Ia mengungkapkan adanya koordinasi lintas tingkatan organisasi, mulai dari daerah hingga pusat.
“Kami bahkan berkomunikasi langsung berempat dengan Ketua KNPI Kukar, Ketua KNPI Kaltim, hingga Ketua KNPI Pusat untuk memastikan anggota bisa segera keluar dari Polres Bontang,” jelasnya.
Menurutnya, dukungan juga datang dari KNPI Bontang yang turun langsung ke lapangan untuk membantu proses pembebasan. Bahkan, Ketua KNPI Pusat, Haris Pertama, turut berperan dalam mengomunikasikan persoalan tersebut agar seluruh peserta aksi dapat dipulangkan pada hari yang sama.
Lebih lanjut, Kami juga telah melakukan pertemuan langsung dengan Ketua Kelompok Kerang Darah, Daeng Said, guna meluruskan informasi yang beredar di masyarakat.
“Kami sudah bertemu dan menyampaikan secara langsung bahwa kami tidak pernah menerima dana tersebut. Ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman,” tambah Abdillah.
Sementara ketua kerang darah dalam keterangan resminya, Muhammad Said memberikan penegasan terkait kebijakan alokasi sebesar 10 persen yang telah disahkan melalui keputusan kolektif dalam forum resmi. Beliau menjelaskan bahwa dana tersebut merupakan keputusan bulat para anggota yang dialokasikan secara sukarela sebagai bentuk apresiasi sekaligus penggantian biaya akomodasi dan operasional yang telah dikeluarkan oleh tim serta berbagai pihak pendukung selama masa pengawalan intensif, terhitung sejak November 2024 hingga Februari 2026.
Dengan munculnya klarifikasi dari berbagai pihak, diharapkan polemik yang berkembang tidak menimbulkan fitnah serta dapat diluruskan berdasarkan fakta yang sebenarnya.





























